Home Sumbagteng Dibantu Asosiasi Petani Sawit Talangi UKT Mahal, Mahasiswi Jalur Prestasi UNRI ini Pilih Mundur

Dibantu Asosiasi Petani Sawit Talangi UKT Mahal, Mahasiswi Jalur Prestasi UNRI ini Pilih Mundur

Pekanbaru, Gatra.com - Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh perempuan 18 tahun ini, selain pasrah pada nasib.

Secarik bukti jebolan SMA Negeri 1 Pendalian IV Kota, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau ini diterima menjadi mahasiswa jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), jadi kenangan.

Sebab tiga pekan lalu, Siti Aisyah telah memilih mundur sebelum kuliah dari kampus yang sejak memakai seragam putih abu-abu telah menjadi idamannya itu.

"Abah enggak sanggup membiayai. Uang Kuliah Tunggal (UKT) terendah yang dipatok oleh kampus terlalu mahal buat kami," cerita langganan juara kelas ini kepada Gatra.com jelang sore tadi.

Dari enam orang lulusan SMA Negeri 1 Pendalian yang diterima di Universitas Riau melalui jalur prestasi, sebenarnya bukan cuma Siti yang memilih mundur. Misfa Yunira juga. Penyebabnya sama; ekonomi lemah.

Ayah Siti, Fendy 64 tahun --- dia memanggil Abah --- cuma pekerja serabutan. Saban hari tak bisa dipastikan dapat duit. Kalaupun ada tambahan, paling dari hasil bertanam palawija.

Itupun luasannya sangat terbatas lantaran tenaga Fendy telah jauh berkurang setelah tubuhnya sering didera sakit.

Tak pernah kepikiran oleh Siti kalau perjalanannya akan berakhir seperti ini. Sebab di benaknya, lolos kuliah melalui jalur prestasi, pastilah urusan akan lebih mudah.

Dan urusan uang kuliah, palinglah di kisaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta, layaknya mereka yang kuliah melalui jalur Kartu Indonesia Pintar (KIP). Termasuk uang makan dan kos, Abah masih bisalah mengusahakan.

Tapi itu tadilah, setelah konsultasi dengan seniornya di kampus, rupanya uang UKT yang musti dibayar tiap semester, jumlahnya telah selangit.

"Biasanya UKT hanya golongan 3-4. Sempat melonjak sampai golongan 12. Tapi setelah mahasiswa menggelar aksi, diturunkan jadi maksimal golongan 7, kecuali untuk kedokteran dan keperawatan," cerita bekas Bupati Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau, Faizul Luthfi, kepada Gatra.com.

Nah, terkait Siti, Faizul dan kawan-kawan sempat juga minta tolong kepada pihak kampus agar dikasi keringan lantaran Siti kebagian UKT golongan 6.

"Permohonan kami itu direspon. Siti pun kebagian UKT golongan 5. Hanya saja, UKT golongan 5 yang biasanya Rp4,5 juta, sekarang justru Rp4,8 juta. Siti enggak sanggup," mahasiswa asal Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) ini mengurai.

Tak ingin Siti gagal kuliah, lelaki 20 tahun ini mencoba upaya lain. Mencari donatur. Sebab batas waktu pembayaran UKT itu tanggal 20 Mei 2024.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr. Gulat Medali Emas Manurung yang dapat cerita dari Faizul, spontan menggalang dana.

Lelaki 52 tahun ini reaktif begitu lantaran Fakultas Pertanian Universitas Riau adalah almamaternya. Ayah dua anak ini pun merogoh koceknya Rp3,5 juta, Dr Mulono Rp500 ribu dan sisanya dari seorang pekerja di perusahaan perkebunan.

Faizul terharu mendapat respon yang menurutnya luar biasa itu, dia bergegas menghubungi Sitidan menyampaikan kalau persoalannya telah teratasi.

"Saya memilih mundur saja, Kak. Taruhlah semester ini bisa teratasi, UKT semester depan gimana? Dari pada saya memberatkan orang tua yang kondisinya juga sedang tidak baik-baik saja, saya memilih mundur saja," terbata-bata suara Siti menjelaskan.

Gulat sempat tak bisa berkata-kata begitu mendengar keputusan Siti itu. Di satu sisi, dia kecewa dengan keputusan Siti. Namun di sisi lain, bagi dia keputusan Siti lumrah.

"Saya hanya bisa berharap Kementerian Pendidikan melek dengan situasi ini. Ini baru seorang Siti. Saya yakin masih banyak Siti-Siti lain yang bernasib sama. Kalaulah orang berprestasi tidak lagi bisa mendapatkan perlakuan lebih di negeri ini, mau dibawa kemana lagi bangsa ini," rutuknya.

"Benar-benar miris saya, di hari kebangkitan nasional ini, saya mendapat cerita kayak begitu. Mestinya dunia pendidikan kita bangkit dari hal-hal yang tidak baik, bukan malah membuat situasi menjadi runyam," Gulat makin merutuk.


Abdul Aziz

39149