Home Ekonomi Industri Minyak Kelapa Rumahan, Alternatif di Tengah Kelangkaan Minyak Goreng Sawit

Industri Minyak Kelapa Rumahan, Alternatif di Tengah Kelangkaan Minyak Goreng Sawit

Purworejo, Gatra.com - Beberapa perempuan nampak sibuk mencungkil kelapa dari tempurungnya. Sementara para lelaki bergantian membawa hasil cungkilan itu seraya direndam dalam sebuah baskom besar. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga tengah hari.

Begitulah keseharian para pekerja pengrajin minyak kelapa milik Nur Hidayat dan istrinya, Kartini di Dusun Tengah, Desa Kedungkamal, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Dalam sehari, mereka bisa mengolah 2.500 butir kelapa menjadi 170-180 minyak klentik, sebutan lain minyak kelapa. Saat minyak sawit mahal dan langka, permintaan minyak kelapa di desa ini meningkat. Sayang, industri rumahan ini tidak mampu memenuhi semua permintaan yang datang. "Karena keterbatasan bahan bakunya," kata Kartini saat ditemui di rumahnya, Sabtu (25/3).

Dari 13 orang pekerja industri minyak kelapa ini, dibagi menjadi tiga tim. Tim pertama yang terdiri dari tujuh orang, bertugas mencungkil kelapa. Tim kedua dan ketiga masing-masing beranggotakan tiga orang yang secara bergantian menggiling kelapa, membuat santan hingga memasaknya menjadi minyak dan bunga santan (ketheg).

Ia menjelaskan, suplai bahan bakunya didapat dari pedagang-pedagang lokal sekitar Purworejo. Setiap hari ada saja orang yang menyetor kelapa ke rumahnya. Hingga saat ini, bahan baku minyak klentik miliknya masih cukup aman. "Kami beli kelapa yang kecil atau kelapa afkiran," jelas Kartini.

"Semua proses kami secara tradisional. Sebelum digiling, daging kelapa direndam tujuh jam. Setelah digiling, diambil santannya dengan cara diinjak-injak seperti orang membuat tempe," lanjut Kartini.

Setelah itu, santan direbus dalam tong di atas tungku kayu selama dua hingga tiga jam. Nantinya minyak dan ketheg akan memisah, lalu disaring dan minyaknya dimasukkan dalam jerigen.

Kartini mengaku, satu kilogram minyak setengah jadi, bisa dijual dengan harga Rp22.000. Harga minyak ini tak terpengaruh dengan dinamika pasar lantaran langkanya minyak goreng kelapa sawit. Naik turunnya harga hanya dipengaruhi oleh bahan baku produksi berupa kelapa.

"Sebelumnya, pernah kami jual Rp19.000 per kilo, sekarang Rp22.000. Naiknya tidak banyak, asal kami hitung penjualan minyak dan ketheg sudah nutup biaya produksi ya sudah, kami tidak cari untung banyak-banyak," jelas Nur Hidayat yang juga anggota DPRD Kabupaten Purworejo ini.

Menurut Politisi Partai Gerindra ini, minyak kepala memiliki keunggulan lebih irit dibanding minyak sawit. Malahan, minyak kelapa juga dinilai lebih sehat digunakan untuk menggoreng makanan.

"Minyak produksi kami tidak menggunakan campuran bahan kimia sama sekali. Awetnya juga alami," jelasnya.

Pembeli minyak kelapa milik Nur Hidayat biasanya akan menyuling lagi dengan cara dimasak sampai mendidih. Nantinya, minyak kelapa hasil produksi Nur Hidayat ini akan diberi label atau brand oleh masing-masing reseller untuk dijual di pasaran.

Ia menambahkan, selain minyak, ketheg juga punya nilai ekonomi. Produk ini bisa diolah menjadi Blondo Ketheg yang merupakan makanan khas Purworejo. Harganya pun lumayan, bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.

"Batok (tempurung) kelapa, air kelapa dan ampasnya pun laku," ujarnya.

Nur Hidayat menyebut, untuk tempurung kelapa yang utuh biasanya dijual seharga Rp250 per biji. Tempurung yang pecah dijual per kilogram dengan harga Rp1.800. Air kelapa biasanya dijual dengan harga Rp30.000 satu tong. Para pembeli air kelapa dalam jumlah banyak ini biasanya membuat sari kelapa. Sedangkan untuk ampas kelapa, Nur Hidayat tidak mematok harga, biasanya produk ini digunakan untuk pakan ternak.

Nur Hidayat dan Kartini mengawali usaha minyak klentik dan ketheg dengan modal nekat. Tak disangka, berkat ketekunan dan kerja keras serta mutu yang terjaga, usaha mereka berkembang hingga bisa mempekerjakan para tetangga. Desa Kedungkamal memang dikenal sebagai sentra pembuatan minyak kelapa, ada beberapa industri rumahan yang memproduksinya.

1912