Home Liputan Haji Catat Tanggalnya! Wow, Jemaah Haji Tahun ini Bisa Menyaksikan Fenomena Matahari di Atas Ka'bah

Catat Tanggalnya! Wow, Jemaah Haji Tahun ini Bisa Menyaksikan Fenomena Matahari di Atas Ka'bah

Jakarta, Gatra.com- Jemaah haji seluruh dunia bisa menyaksikan fenomena langka Matahari tepat di atas Ka'bah pada musim haji tahun ini. Fenomena ini terjadi pada setiap setiap 28 Mei (tahun ini pada 27 Mei karena kabisat) pukul 12.18 waktu Makkah atau 9.18 GMT (16.18 WIB). Setelah itu karena gerakan mengangguk Bumi saat berotasi sambil mengitari Matahari (revolusi), posisi Matahari semakin ke utara Makkah.

Kemudian Bumi mendongak dengan sumbu rotasi menjauhi Matahari, maka Sang Surya di utara Makkah kembali ke posisi di atas Ka'bah pada 16 Juli (tahun ini 15 Juli karena kabisat) jam 12.27 waktu Makkah atau 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa.

Karena tahun ini kabisat (bisa dibagi 4), maka tanggal tersebut dimajukan satu hari (27 Mei dan 15 Juli), dengan jam yang sama. Fenomena ini bisa dijadikan patokan separuh penduduk bumi yang tersiram Matahari untuk menentukan arah kiblat. Bayangan yang terbentuk saat itu mengarah secara presisi ke Baitullah.

Persoalan kiblat ini mencuat pada 1977. Ketika itu mulai banyak mahasiswa Islam belajar ke luar negeri. Mereka kesulitan menentukan arah kiblat ketika shalat. Dengan fenomena tahunan ini makan mereka dengan mudah mengoreksi arah kiblatnya.

Bagaimana dengan negara yang saat itu malam hari? Terdapat 2 hari lain dimana Matahari tepat di "bawah" Ka'bah (antipoda). Bayangan akibat paparan Matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka'bah. Peristiwa tersebut terjadi pada 28 November, 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB) untuk tahun biasa. Atau maju sehari untuk kabisat. Karena tahun ini kabisat, maka tanggal tersebut dimajukan satu hari (27 November).

Ini salah satu hikmah mengapa kiblat dipindahkan ke Ka'bah. Bayangkan seandainya kiblat itu tetap di Masjid Al-Aqsa Yerusalem, ataupun di Madinah misalnya, maka tidak ada cara praktis yang dijadikan patokan untuk menentukan arah kiblat. Prinsip yang dipakai adalah gerak semu tahunan Matahari.

Benda langit lain bisa saja dipakai, namun Matahari memiliki kelebihan karena gerakannya bisa diprediksi dengan akurasi sangat tinggi. Sinarnya yang sangat cemerlang sehingga menghasilkan bayangan tajam. Dengan menancapkan sebatang lidi pada tanggal-tanggal di atas sudah menghasilkan bayangan untuk menentukan arah kiblat.

Pada mulanya kiblat mengarah ke Yerusalem. Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu beliau sering shalat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau shalat sekaligus menghadap dua kiblat, Ka'bah dan Baitul Maqdis.

Setelah hijrah ke Madinah, beliau tidak mungkin lagi shalat dengan menghadap dua kiblat. Kemudian Nabi SAW shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Dia sering menengadahkan kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Ka'bah dijadikan kiblat. Allah pun mengabulkan keinginan beliau dengan menurunkan ayat 144 dari Surat Al-Baqarah. Menurut hadits Bukhari, Nabi SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan.

Beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah. Dan shalat pertama beliau dengan menghadap Baitullah adalah shalat Ashar dimana orang-orang turut shalat (bermakmum) bersama beliau. Seusai shalat, seorang lelaki yang ikut shalat bersama beliau pergi kemudian melewati orang-orang di suatu masjid sedang ruku'. Lantas dia berkata: "Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah shalat bersama Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah."

Pengalihan arah kiblat terjadi pada tahun 624. Dengan turunnya ayat tersebut, kiblat diganti menjadi mengarah ke Ka'bah di Makkah. Selain arah shalat, Ka'bah juga menjadi arah menghadap ketika berdo'a, arah kepala hewan yang disembelih, juga arah kepala jenazah yang dimakamkan.

Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Al Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana Matahari tepat di atas Ka'bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Dan fenomena itu terjadi di bulan-bulan haji tahun ini.

318