Home Pendidikan Guru Penyelamat Peradaban, tapi Sering Terjebak Urusan Administrasi

Guru Penyelamat Peradaban, tapi Sering Terjebak Urusan Administrasi

Yogyakarta, Gatra.com - Peran guru saat ini sering terjebak dalam urusan administrasi dan kurikulum. Padahal mereka seharusnya membantu anak didik memiliki cara berpikir, merasa, berperilaku, dan bersikap adaptif untuk menghadapi tantangan zaman.

Hal ini mengemuka dalam "Ngkaji Pendidikan: Guru - Sang Intelektual Penuntun Peradaban" gelaran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Sabtu (4/11) di Taman Budaya Yogyakarta.

“Tiga hal kunci yang ada pada guru sang intelektual, yaitu mampu memberikan inspirasi, memberdayakan individu, dan memimpin perubahan. Intelektual itu bukan sebatas profesi, tapi itu sebuah sifat yang dimiliki siapapun terutama guru," kata pendiri GSM sekaligus dosen Fakultas Teknik UGM, Muhammad Nur Rizal.

Menurutnya, guru bukan hanya mengajarkan soal teks, tetapi juga konteks. Guru juga tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga konsekuensi etis dari tindakan, kebenaran, dan kepantasan. "Karena guru adalah kurikulum itu sendiri dan bukan pelaksana kurikulum,” ujar Rizal.

Agenda ini pun digelar untuk memperkuat nilai dan semangat pendidikan dari para guru dan dihadiri lebih dari 800 peserta dari guru, masyarakat, dan anak muda. Komunitas guru yang hadir langsung di TBY berasal dari berbagai daerah. Pentingnya peran guru dalam perkembangan sebuah peradaban menjadi fokus utama acara ini.

Rizal pun menggambarkan awal kisah Jepang yang hancur pasca-perang dan bagaimana dalam situasi tersebut, guru menjadi elemen kunci yang harus dipertahankan.

“Fokusnya saat itu adalah pada membangun budaya dan mental yang kuat, bukan hanya infrastruktur atau mencari insinyur,” ujarnya.

Ia juga menyoroti krisis besar yang menghantui kehidupan saat ini, yakni krisis iklim dan lingkungan, krisis ketimpangan dan ketidakadilan, krisis etika, krisis eksistensi manusia, dan krisis belajar. Peran guru amat besar untuk menjelaskan ke siswa dan turut mencari jawaban atas berbagai krisis tersebut.

"Menjadi guru berarti memastikan setiap murid memiliki keyakinan bahwa mereka dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Peran guru bukan sekadar mengajar, tetapi menjadi penyelamat peradaban," tandasnya.

Melalui Ngkaji Pendidikan, para guru diharapkan bisa menemukan kebahagiaan dalam mendidik melalui kegiatan olah pikir dan olah rasa.

“Realitas pendidikan di Indonesia itu masih mekanistik. Saya sebagai seorang guru yang juga pegiat komunitas ingin mengerti mengenai pendidikan yang memerdekakan, memanusiakan, sekaligus saling berbagi. Jadi guru-guru bisa menemukan kebermaknaan dan kebahagiaannya dalam mendidik melalui acara ini,” ucap Ali Sodikin, salah satu guru.

 

181