Home Internasional Bagaimana Musisi Bersikap terhadap Gerakan Boikot Produk Terafiliasi Israel?

Bagaimana Musisi Bersikap terhadap Gerakan Boikot Produk Terafiliasi Israel?

Jakarta, Gatra.com – Koalisi Musisi untuk Gaza mengelar aksi bela Palestina bertajuk “Stop Genosida Palestina” di depan Gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Jakarta pada Jumat (19/4/2024).

Dalam kesempatan itu, kelompok musisi tersebut menyerukan sejumlah tuntutan. Tuntutan-tuntutan itu di antaranya adalah gencatan senjata sesegera mungkin hingga meminta Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), untuk mematuhi aturan perang internasional.

Namun, di samping tuntutan-tuntutan utama dalam aksi bela Palestina tersebut, sejumlah musisi yang hadir juga berbagi pandangan mengenai gerakan boikot terhadap produk-produk terafiliasi Israel. Bagi vokalis band The Brandals, Eka Annash, meski boikot merupakan isu yang sensitif, ia tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa urusan nyawa memang lebih krusial.

"Tiap hari puluhan sampai ratusan nyawa itu meninggal dikomparasi sama di sini yang ancamannya pemutusan kerja. Gua enggak memperbandingkan yang ini lebih ringan, yang itu lebih berat, tapi sepertinya lebih krusial untuk membela nyawa,” ujar Eka saat ditemui wartawan.

Sejauh ini, Eka mengaku ikut dalam gerakan boikot sejak praktik genosida Israel kepada rakyat Palestina beberapa bulan lalu. Ia mengatakan, sudah memboikot produk-produk makanan dan minuman (food and beverage) dari merek ternama. Ia pun kini mulai melirik produk makanan dan minuman lokal.

Meski begitu, Eka menyatakan bahwa gerakan boikot ini lebih bersifat personal. Ia tidak mempermasalahkan apabila orang lain punya pandangan berbeda. Namun ia tergolong sebagai orang yang punya prinsip teguh untuk memboikot produk-produk terafiliasi Israel.

“Ini hal yang sensitif, ya. Gua sadar ada banyak yang terlibat. Ada pegawai-pegawai yang bekerja di situ, bermata pencaharian di situ, tapi ini kembali ke pribadi. Kalau gua pribadi sih ngelakuin itu, ngelakuin boikot,” ujar Eka.

Musisi lain yang berbagi pandangannya terhadap gerakan Boikot ialah penyanyi dan penulis lagu Bella Fawzi. Putri penyanyi kondang Ikang Fawzi itu mengatakan bahwa ia mendukung penuh gerakan tersebut meski dirinya belum mengikuti gerakan boikot secara sempurna.

“Sebenernya kalau boikot, kalau boleh jujur, aku belum sempurna, ya. Aku juga masih pelan-pelan. Aku masih belajar melakukan itu. Beberapa brand sudah ada yang aku tinggalkan karena aku mikir, ‘Ya udahlah tanpa makan atau minum itu pun juga aku bisa hidup kok,’” ujar Bella.

Namun Bella menegaskan bahwa ia memahami betul orang-orang yang sudah secara penuh memboikot produk-produk terafiliasi Israel. Ia pun meyakini gerakan tersebut bertujuan untuk mengeringkan pundi-pundi penyokong Israel.

Terlebih lagi, kata Bella, gerakan boikot produk-produk ternama itu bisa menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM dalam negeri. “UMKM kan jadi terangkat. Aku dari sebelum kejadian Palestina pun aku sudah mendukung UMKM. Jadi kalau bisa menaikkan UMKM, kenapa enggak?” ujarnya.

Adik Bella, Chiki Fawzi, juga mengatakan bahwa dirinya belum 100% melakukan boikot produk-produk terafiliasi Israel. Ia masih pelan-pelan berusaha meninggalkan produk-produk konsumsi sehari-hari yang terindikasi terafiliasi Israel.

“Yang fatal-fatal aku bisa ikut, tapi ada beberapa hal yang aku belum bisa boikot. Tapi hal-hal majority kalau bisa langsung diganti, misalnya ada shampoo kesayangan, dan produk-produk lain yang udah terbiasa, sangat amat berusaha banget untuk diganti,” kata Chiki kepada Gatra.com.

Meski begitu, Chiki juga mendukung penuh orang-orang yang mengikuti gerakan boikot. Dengan gerakan tersebut, ia juga meyakini produk-produk UMKM lokal akan kian terangkat. “Mungkin ini saatnya UMKM Indonesia makin maju. Setuju banget dengan boikot,” katanya.

Seperti diketahui, salah satu merek dagang yang menjadi sasaran utama boikot adalah. McDonald’s. Kinerja keuangan perusahaan makanan cepat saji itu meleset akibat gerakan boikot di berbagai negara.

Melansir laporan Al-Jazeera, peningkatan jumlah penjualan McDonald’s di Timur Tengah, Cina, dan India, selama Oktober-Desember 2023 hanya menembus angka 0,7%. Perolehan itu meleset jauh dari perkiraan pasar, yakni 5,5%.

Jumlah penjualan McDonald’s secara global memang meningkat 3,4% di kuartal IV tahun itu. Namun angka itu merosot dari penjualan di kuartal sebelumnya yang menembus 8,8%. Alhasil saham McDonald’s pun anjlok sebesar 4% di kuartal IV tahun lalu.

Sejatinya, di level global, sudah terdapat gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS). Gerakan itu sudah muncul sejak tahun 2005 silam. Tujuannya adalah untuk memberi tekanan kepada dukungan internasional terhadap Israel yang melakukan praktik apartheid dan kolonialisme penduduk (settler colonialism).

Melansir laman resmi gerakan BDS, target boikot utama dari gerakan ini adalah produk-produk dari perusahaan Israel dan perusahaan internasional lainnya yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi rakyat Palestina. Salah satu di antaranya adalah merek elektronik Hewlett-Packard (HP).

Selain HP, target boikot utama gerakan BDS adalah merek elektronik Siemens, perusahaan asuransi jiwa AXA, merek apparel Puma, buah-buahan dan sayuran yang diproduksi di Israel, merek sparkling water Soda Stream, merek kosmetik Ahava, hingga perusahaan makanan Sabra.

Di level domestik, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina. Salah satu poin dalam rekomendasinya ialah terkait dorongan untuk menghindari produk-produk terafiliasi Israel.

“Umat Islam diimbau untuk memaksimalkan menghindari konsumsi dan penggunaan produk-produk Israel dan pihak-pihak yang mendukung agresi Israel atas Palestina,” begitu bunyi salah satu rekomendasi dalam fatwa tersebut.

93