Home Regional Mulai Panen Raya Padi, BI Sebut Inflasi April 2024 di Jateng Turun Jadi 3,27 Persen

Mulai Panen Raya Padi, BI Sebut Inflasi April 2024 di Jateng Turun Jadi 3,27 Persen

Semarang, Gatra.com - Bank Indonesia (BI) menyebutkan pada April 2024, tekanan inflasi gabungan kota di Jawa Tengah menurun, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 0,20 persen (mtm) dibandingkan atas bulan sebesar 0,60 persen.

Dengan demikian, inflasi gabungan kota di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) pada April 2024 tercatat sebesar 3,27 persen (yoy) masih berada di rentang sasaran target inflasi 2,5±1%.

Pelaksana harian (Plh) Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jateng, Nita Rachmenia, menyatakan, seluruh kota pantauan inflasi di Jateng mengalami penurunan tekanan inflasi.

“Terendah di Kabuaten Rembang yang pada periode laporan mencatatkan inflasi sebesar 0,02 persen (mtm) dan tertinggi Kota Surakarta sebesar 0,39% persen,” katanya dalam siaran tertulis, Minggu (5/5).

Menurut Nita, penurunan inflasi terutama dipengaruhi penurunan harga beras seiring dengan mulai panen raya padi yang berlangsung di sejumlah daerah sentra, antara lain Klaten, Sragen, Temanggung, Purwokerto, Demak, dan Grobogan.

Serta penurunan harga telur ayam ras seiring dengan menurunnya permintaan masyarakat setelah Idulfitri 1445 Hijriyah dan penurunan harga pakan ternak seiring dengan panen jagung di sejumlah daerah sentra, seperti Grobogan, Blora, dan Wonogiri.

“Namun, sejumlah komoditas pangan tercatat masih mengalami kenaikan harga, sehingga menahan penurunan inflasi lebih lanjut,” ujarnya.

Harga bawang merah yang meningkat disebabkan gagal panen akibat banjir di sentra-sentra produksi di Jateng pada triwulan I (Januari-Maret) 2024.

Banjir di sentra produksi bawang antara lain Demak seluas 4.137,8 hektare (Ha), Brebes seluasa 438,5 Ha, Kendal seluas 105 Ha, dan Grobogan seluas 254 Ha, menyebabkan keterbatasan pasokan benih komoditas bawang merah.

“Gagal panen ini juga turut berdampak pada kenaikan harga bawang merah secara nasional,” tandas Nita.

Nita menambahkan, kenaikan inflasi juga terjadi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok transortasi.

Kenaikan inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan seiring dengan kenaikan harga emas dunia.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas pada 26 April lalu naik 8,49 persen dibandingkan bulan Maret atau meningkat 18,45% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tekanan harga emas global dipengaruhi oleh ketegangan konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut dan meluas dengan konflik antara Iran dan Israel.

Sementara dari Kelompok Transportasi, kenaikan inflasi didorong oleh kenaikan tarif angkutan antarkota. Sesuai dengan pola musimannya, terjadi kenaikan permintaan masyarakat terhadap moda angkutan antarkota sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat pada arus mudik dan arus balik Lebaran.

Guna menjaga inflasi berada pada rentang sasaran, Bank Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan di daerah yang tergabung dalam Forum TPID Provinsi Jawa Tengah akan terus berkoordinasi dan bekerja sama melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi.

“Program pengendalian inflasi tersebut ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang/komoditas di Jawa Tengah sehingga inflasi dapat terjaga di rentang sasaran 2,5±1%,” ujarnya.

112